Mari Mempersiapkan Perempuan Untuk Masa Depan Dunia Kerja

Mari Mempersiapkan Perempuan Untuk Masa Depan Dunia Kerja

Di era digital ini, kemajuan teknologi seperti teknologi otomatisasi dan artificial intelligence (AI) mengubah sifat pekerjaan. Walaupun dengan kemajuan ini telah memungkinkan bisnis konstruksi untuk mengotomatisasi berbagai hal yang membuat bisnin konstruksi dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat dan lebih efisien, tetapi kemajuan teknologi terutama di bidang otomatisasi juga telah meningkatkan banyak pertanyaan tentang masa depan pekerjaan. “Sampai sejauh mana mesin akan menggantikan manusia?” Ada banyak orang yang cemas dengan pemikiran bahwa mesin dapat melakukan tugas dan pekerjaan dengan lebih baik daripada manusia.

Namun, menurut laporan Future of Work 2019 yang dikeluarkan oleh McKinsey, dalam jangka panjang, kemajuan teknologi akan menghasilkan pekerjaan baru untuk menggantikan pekerjaan yang hilang akibat otomatisasi. Memang benar bahwa ada sejumlah besar pekerjaan yang hilang atau digantikan oleh otomatisasi, tetapi juga akan ada pekerjaan yang diciptakan oleh investasi, perubahan demografis, pertumbuhan ekonomi, dan inovasi dalam teknologi. Selain itu, otomatisasi tidak sepenuhnya menggantikan manusia dalam pekerjaan mereka saat ini, tetapi lebih tepatnya mengubah ruang lingkup pekerjaan, yang berarti manusia harus siap untuk beradaptasi untuk bekerja Bersama dengan mesin dikarenakan saat ini tempat kerja secara progresif mengadopsi teknologi baru atau atomatisasi parsial. Di Indonesia, 27 hingga 46 juta pekerjaan baru akan diciptakan, melebihi 23 juta pekerjaan yang akan hilang karena otomatisasi, dengan 10 juta di antaranya merupakan pekerjaan yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

Terlepas dari berita positif ini, di bidang sumber daya manusia, kita perlu memberi perhatian khusus pada segmen tertentu dari tenaga kerja, yang penghidupannya menghadapi sedikit risiko lebih besar dari otomatisasi. Menurut sebuah makalah penelitian yang diterbitkan oleh International Monetary Fund (IMF), perempuan dalam angkatan kerja global lebih cenderung mendapati pekerjaan mereka digantikan oleh teknologi dalam dua dekade mendatang dibandingkan dengan laki-laki. Karena itu, muncul pertanyaan lain:

“Apa yang dapat dilakukan bisnis untuk menavigasi perubahan di dunia kerja yang mempromosikan partisipasi perempuan di tempat kerja?”

Bisnis harus terlibat dalam mempersiapkan wanita untuk “masa depan kerja” dalam hal mengatasi potensi ketidakadilan yang lebih luas yang mungkin dihasilkan dari sifat pekerjaan yang berubah. Namun sebelum mereka melakukan ini, mereka perlu mempersiapkan diri untuk menempatkan orang-orang mereka di garis depan dari upaya mereka untuk mengatur kembali, dan untuk memiliki budaya kerja seperti itu, perilaku tertentu perlu didorong dan dianggap sebagai norma. Perilaku semacam itu termasuk inklusi dalam perekrutan dan promosi, mengakui wanita atas pencapaian mereka, untuk memberdayakan mereka untuk membuat keputusan yang akan bermanfaat bagi orang lain seperti mereka. Selain itu, bisnis harus mempersiapkan karyawan untuk kehilangan pekerjaan karena otomatisasi dan AI dengan berinvestasi dalam pelatihan keterampilan digital, seperti berbagai program peningkatan keterampilan, untuk memastikan perempuan siap untuk perubahan di masa depan pekerjaan. Bisnis harus mengadopsi teknologi baru dan model tempat kerja yang terkait dengan masa depan pekerjaan tanpa berkontribusi pada ketidaksetaraan gender yang lebih luas.

Dengan mengantisipasi masa depan dan memulai upaya hari ini daripada menunggu masa depan tiba, komitmen bisnis untuk mempersiapkan karyawan wanita untuk masa depan kerja sekarang akan membawa hasil yang signifikan untuk pengembangan wanita ke masa depan. Perusahaan harus menyadari bahwa mereka dapat membentuk masa depan revolusioner yang berbeda untuk wanita yang bekerja dengan niat dan fokus yang tepat.

No Comments

Post A Comment